Diakui, berbakti kepada orang tua merupakan salah satu amal yang paling dicintai Allah.
Diriwayatkan
dari Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata: Aku bertanya kepada
Rasulullah saw., “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah?” Beliau
menjawab, “Solat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “kemudian apa
lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti pada kedua orang tua.” Aku bertanya
lagi, “kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah."
(H.R.Bukhari dan Muslim)
Berbakti kepada kedua orang tua tidak dibatasi saat
mereka masih hidup, setelah mereka meninggal pun kita masih memiliki
kesempatan untuk berbakti kepadanya. Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah
As-Sa’idi r.a., ia berkata: Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah
saw., tiba-tiba datang seorang laki-laki dari suku Bani Salamah lalu
berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang dapat aku
lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya wafat?”
Beliau bersabda, “Ya, iaitu mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk
keduanya, menunaikan janji keduanya setelah mereka tiada, menyambung
persaudaraan yang tidak disambung kecuali karena keduanya, dan
memuliakan kawan keduanya.” (H.R.Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban
di dalam Shahihnya)
Merujuk pada keterangan ini, kita boleh membuat bakti kepada orang tua yang sudah wafat iaitu :
Pertama : Mendoakannya agar mereka diampuni, dirahmati, diberi kemuliaan di sisi-Nya, dan dilapangkan di alam kuburnya.
Doa ini boleh kita panjatkan bila dan di mana saja kita mahu.
Mendoakan orang tua yang telah wafat tidak dibatasi dengan ziarah
kubur, kerana tujuan utama ziarah kubur adalah untuk mengingatkan
akhirat (mati).
Nabi saw bersabda: fazuuruha fainnaha tudzakkirul aakhirah (ziarahi
kubur, karena dapat mengingatkan kepada akhirat) [HR. Tirmidzi]
Tapi sayang, banyak yang beranggapan tujuan ziarah kubur untuk mendoakan orang yang sudah meninggal.
Pernyataan
ini tidak bermaksud menafikan doa kepada almarhum saat ziarah, yang
ingin saya tegaskan bahwa berdoa untuk orang tua yang telah wafat bukan
saat ziarah saja, tapi bila dan di mana pun kita dianjurkan untuk
selalu mendoakannya. Berdoa boleh menggunakan bahasa arab (dikutip dari
Al-Quran atau hadith) ataupun dengan bahasa apa saja yang boleh kita
fahami.
Satu hal yang perlu diingat, apabila orang tua yang telah wafat itu berbeza agama (non-muslim), kita dilarang mendoakannya
sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut, “Tiadalah sepatutnya bagi
Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi
orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum
kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musyrik
itu adalah penghuni neraka jahannam.” (At-Taubah 9: 113)
Namun kalau orang tua yang berbeza agama itu masih hidup, kita diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk mendoakannya agar
diberi hidayah oleh Allah swt. (masuk Islam). Rasulullah saw. pernah
mendoakan agar bapa saudaranya, Abu Thalib masuk Islam, ini bukti bahwa kita
boleh mendoakan non muslim agar masuk Islam.
Kedua
: Menunaikan janjinya Apabila kita pernah mendengar orang tua mempunyai
janji atau niat untuk melakukan suatu kebajikan, namun belum terlaksana
kerana maut menjemputnya, kita sebagai anaknya dianjurkan untuk
merealisasikan niat baiknya itu. Misalnya, mereka pernah
berniat mendirikan pusat asuhan, sebelum niat baik ini terwujud, Allah
swt. memanggilnya, sebagai wujud bakti anak terhadap orang tua adalah
merealisasikan niat baiknya tersebut.
Ketiga :
Silaturrahmi sebagai makhluk sosial, orang tua kita tentu mempunyai
sejumlah sahabat, wujud bakti kepada mereka adalah menyambungkan
silaturahmi dengan orang-orang yang biasa bersilaturahmi dengannya.
Misalnya, saat hidup orang tua suka bersilaturahmi kepada pak Yusuf,
bila orang tua kita telah meninggal, kitalah yang menggantikannya datang
ke rumah pak Yusuf.
Kesimpulannya, di antara amal soleh yang
sangat dicintai Allah adalah berbakti pada orang tua baik ketika masih
hidup ataupun setelah mereka wafat. Ada tiga cara bakti kepada
orang tua yang telah wafat; mendoakannya, mewujudkan niat baiknya, dan
bersilaturahmi kepada sahabat-sahabatnya.
Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment